Sejarah Singkat

Meski kaya akan sumber daya alam dan bahkan juga sumber daya manusia, Aceh masih merupakan wilayah di Indonesia dengan angka kemiskinan di atas rata-rata nasional. Beberapa komoditi local dengan karakteristik unik, bermutu tinggi dan sangat dibutuhkan oleh dunia industry, belum mendapatkan sentuhan yang memadai pada rantai hulu-hilirnya sehingga nilai tambah komoditi ini tidak berdampak positif pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Salah satu komoditi unggulan adalah minyak atsiri. Beberapa kegiatan survey lapangan yang telah dilakukan, telah terindentifikasi beberapa permasalahan yang terjadi baik di hulu maupun di hilir dalam memperoleh produk minyak atsiri.

Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai inovasi dengan sentuhan sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi pada rantai hulu dan hilir industry minyak atsiri di Aceh. Dalam mewujudkan hal tersebut, maka pada akhir tahun 2016, Universitas Syiah Kuala mendirikan pusat penelitian minyak atsiri atau Atsiri Research Center (ARC) yang beranggotakan para peneliti lintas disiplin ilmu yang berpengalaman dalam bidang Pertanian, Teknologi Hasil Pertanian, Teknik Kimia, MIPA Kimia, Ekonomi dan Bisnis, serta Manajemen dan Pemasaran. ARC dibentuk bekerjasama dengan Korea Invention Promotion Ascociation (KIPA), Forum Nilam Aceh dan Bappeda Propinsi Aceh.