Blog

October 17, 2019

Begini Hasil Riset ARC Unsyiah dan Kajian BI Tentang Nilam Aceh

Ilustrasi – Tanaman nilam

BANDA ACEH – Pemerintah Aceh, Universitas Syiah Kuala, dan Bank Indonesia menggalakkan budi daya dan industri pengolahan nilam Aceh selama tiga tahun terakhir. Nilam dianggap berpotensi tinggi dalam memajukan ekonomi Aceh karena sekitar 90% nilam dunia diekspor dari Indonesia, dan Aceh berkontribusi terhadap 10%-20% ekspor nilam Indonesia.

Industri nilam makin bergairah dikembangkan karena menurut beberapa perusahaan internasional seperti Payan Bertrand, perusahaan parfum asal Prancis, nilam Aceh merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

Hasil riset Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC Unsyiah), secara alami nilam Aceh memiliki kandungan patchouli alcohol mencapai 34%. Patchouli alcohol ini penting bagi perusahaan parfum untuk mengikat aroma sehingga wangi menjadi tahan lama.

ARC Unsyiah dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Aceh telah membuat blueprint industri nilam Aceh. Blueprint tersebut dibuat berdasarkan hasil riset Syaifullah Muhammad dan timnya terkait kondisi nilam Aceh pada 2015 dan diharapkan terwujud sepenuhnya pada 2027.

Ketua ARC Unsyiah Syaifullah Muhammad menuturkan, nilam Aceh memiliki potensi yang tinggi untuk masuk pasar internasional, namun selama ini nilam Aceh hanya diekspor sebagai bahan baku saja. Pihaknya saat ini telah menandatangani kerja sama dengan beberapa perusahaan dan lembaga untuk membentuk suatu mata rantai industri nilam yang baik dari hulu ke hilir.

Dalam dokumen yang diberi nama Sistem Inovasi Daerah Nilam Aceh, ARC Unsyiah menjabarkan masterplan industri nilam Aceh. Setidaknya ada empat sub sistem yang ARC Unsyiah intervensi. Pada bagian hulu dari agro industri, mereka mengintervensi pada bibit, pupuk, dan pestisida.

Belum lama ini, ARC membangun Nilam Innovation Park, Laboratorium Kultur Jaringan Nilam, Green House pembibitan nilam, dan juga membuat pupuk organik serta bio pestisida.

“Masalahnya selama ini untuk bibit kita belum mandiri. Kita sedang upayakan mendapat sertifikasi bibit nilam punya ARC,” ujar Syaifullah.

Dalam aktivitas industrinya, nilam memiliki masalah serius karena tanaman nilam menghabiskan banyak zat hara dalam tanah. Karena itu, banyak petani setelah memanen nilam akan berpindah membuka lahan baru. Hal ini dianggap masalah karena selain merusak hutan, juga tidak baik untuk bisnis nilam jangka panjang.

“Dunia internasional sekarang nggak mau beli produk kita kalau itu dihasilkan dari proses yang merusak lingkungan,” ujarnya.

Solusinya, lanjut Syaifullah, dilakukan permakultur dengan membuat lahan permanen dimana limbah hasil penyulingan dijadikan kompos dan dikembalikan ke tanah.

Pada program pengembangan nilam di Kabupaten Aceh Jaya, sisa penyulingan minyak nilam dimasukkan ke dalam bak 4×5 meter dengan kedalaman dua meter. Limbah sisa penyulingan dicampur kotoran hewan dan bakteri EM4, lalu disiram dan ditutup dengan plastik. Dalam dua minggu, bisa menghasilkan 20 ton pupuk kompos.

Pada bagian hilir dari penyulingan hingga menghasilkan produk lanjutan, ARC Unsyiah berupaya memberikan inovasi kepada petani terkait bahan bakar yang digunakan, alat ketel, hingga memikirkan produk turunan agar nilam Aceh memiliki nilai tambah. Bagian supporting system seperti regulasi pemerintah, akses permodalan, dan riset, juga dinilai penting.

ARC Unsyiah dan Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Aceh juga mengadakan proyek untuk mengembangkan klaster nilam. Dalam proyek yang berlokasi di Aceh Jaya itu, dilakukan produksi nilam pada lahan seluas 3 hektare yang hasilnya akan dijual kepada perusahaan asal Prancis. Mereka mempekerjakan masyarakat untuk menjalankan proyek itu.

Beberapa tahun belakangan, ada beberapa produk turunan produksi lokal, khususnya parfum yang menggunakan nilam Aceh sebagai komponen utamanya, yaitu parfum Minyeuk Pret yang beberapa tahun belakangan penjualannya merambah pasar internasional, dan parfum Laki. ARC Unsyiah memiliki sembilan jenis produk turunan yang diolah dari hasil nilam rakyat. Mereka kini mengurus izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Tahun ini, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi memberikan bantuan mesin fraksinasi kepada ARC Unsyiah. Melalui mesin tersebut, kata Syaifullah, bisa diambil single oil dalam minyak nilam. Minyak nilam sendiri terdiri atas 35 komponen, salah satunya patchouli alcohol.

Patchouli alcohol dicari-cari industri parfum karena zat ini bisa mengikat wangi. Aroma yang harusnya hilang dalam 1 jam hingga 2 jam, bisa bertahan lebih lama karena patchouli alcohol mengintervensi titik keseimbangan uap.

“Jadi aromanya menguap perlahan. Pelan, pelan, sehingga aromanya bisa bertahan jadi 12-24 jam,” Syaifullah menjelaskan.

Nilam Aceh yang memiliki kandungan alami patchouli alcohol mencapai 34% terdapat di dataran tinggi Gayo Lues. Sementara nilam Aceh yang ditanam di daerah lain rata-rata mengandung 20%-30% patchouli alcohol.

Data 2018 dari Bank Indonesia Provinsi Aceh, Aceh memproduksi nilam sebanyak 460 ton per tahun dengan lahan yang dimiliki seluas 2.140 hektare atau terluas ketiga di Indonesia setelah Sumatra Barat dan Jawa Timur. Di Aceh terdapat 5.453 petani nilam.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh Zainal Arifin Lubis menyebutkan hampir seluruh daerah di Provinsi Aceh memiliki lahan potensial untuk nilam, kecuali Kota Sabang dan Kota Subulussalam. Di Aceh, produksi nilam tertinggi berada di Kabupaten Gayo Lues dengan produk 274 ton per tahun.

Menurut Arifin, membangun bisnis nilam di Aceh perlu dilakukan langkah-langkah strategis dengan menerapkan konsep bisnis yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Dengan begitu, akan tercipta rantai industri yang kuat dan saling mendukung.

“Mata rantai dari hulu ke hilir ini harus saling terkait sehingga petani memiliki pasar yang jelas dan harga tidak berfluktuasi berat karena ditentukan oleh agregrator yang diluar Aceh,” ujar Zainal Arifin Lubis.

Berdasarkan kajian BI Aceh, nilam menjadi salah satu komoditas yang dapat menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi Aceh. Arifin mengatakan, BI Aceh, ARC Unsyiah, dan pemerintah Aceh sedang mengupayakan berdirinya industri nilam berskala besar di Aceh dengan melibatkan pihak-pihak strategis.

Pengembangan industri nilam dinilai cukup masuk akal karena saat ini permintaan nilam cenderung meningkat dari negara-negara industri di kawasan Eropa maupun Amerika. BI Aceh memproyeksikan permintaan minyak nilam akan terus meningkat mengingat permintaan industri atas produk turunan nilam seperti kosmetik dan parfum terus bertambah.

“Di luar negeri, parfum yang menggunakan nilam harganya cukup tinggi karena nilam sangat baik sebagai perekat wangi untuk lebih tahan lama,” sebut Arifin.

Bank Indonesia mengharapkan mata rantai industri nilam di Aceh tumbuh ke arah positif sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan petani nilam. Selain itu, pertumbuhan industri nilam juga akan menyerap tenaga kerja dan menuntaskan kemiskinan, juga dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perbaikan current account devisit dengan memperkuat ekspor Indonesia.

Pemerintah menetapkan Kabupaten Aceh Jaya sebagai daerah klaster inovasi nilam. Bupati Aceh Jaya mengaku telah menyiapkan dua daerahnya yang dinilai cukup potensial untuk pengembangan nilam, yaitu di Kecamatan Panga dan Kecamatan Darul Hikmah. Ia mencanangkan 250 hektar lahan sebagai kawasan pengembangan nilam.

Salah satu perusahaan yang menggunakan minyak nilam Aceh dalam produknya ialah Payan Bertrand. Perusahaan asal Prancis ini sudah 10 tahun memproses minyak nilam Aceh untuk dijadikan bibit parfum yang kemudian dijual ke perusahaan parfum kelas atas. Payan Bertrand melalui anak perusahaannya, PT General Aromatic, selama ini membina petani di Kabupaten Gayo Lues untuk menghasilkan minyak nilam yang berkualitas.

Direktur PT General Aromatic Alexandre Daniel Halbwachs mengatakan pihaknya berkomitmen mendorong pertumbuhan industri nilam di Aceh.

Sebagai perusahaan yang menampung hasil minyak nilam rakyat, mereka berupaya menjamin harga pembelian nilam dengan batas yang wajar sehingga masyarakat dapat menanam nilam sebagai mata pencaharian.

Saat ditemui pekan lalu, Alexandre Daniel Halbwachs mengatakan PT General Aromatic sudah menandatangani kerja sama dengan ARC Unsyiah dalam mengembangkan industri nilam di Aceh. Terkait hal ini, PT General Aromatic juga diminta sebagai penjamin pasar.

Pria yang akrab disapa Alex ini menyebutkan nilam Aceh khususnya dari Gayo Lues memiliki kualitas yang baik dan wangi yang berbeda dari minyak nilam lainnya. Sebagai anak perusahaan Payan Bertrand, PT General Aromatic sudah 10 tahun berbisnis di Provinsi Aceh dan memproduksi minyak mentah nilam.

“Payan Bertrand selalau menggunakan nilam dari Aceh untuk membuat bibit parfum mewah. Kita melihat nilam di Aceh punya kualitas yang baik,” tutur Alex.

Sementara itu, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Aceh Dyah Erti Idawati berharap peluang pengembangan nilam di Aceh bisa menjadi salah satu solusi menuntaskan kemiskinan Aceh.

“Prospek nilam di Aceh cukup baik, jadi saya harap berkah nilam bisa membuka akses untuk meningkatkan perekonomian Aceh,” kata Dyah dalam Forum Bisnis Klaster Inovasi Nilam, di Banda Aceh pada akhir September 2019.

Pengembangan klaster nilam juga berdampak pada sektor pariwisata, salah satunya melalui pilot projek desa wisata nilam yang digagasnya beberapa waktu lalu. Karena itu, kata Dyah, desa wisata tersebut bisa membuka peluang Aceh untuk menguatkan perekonomian melalui pariwisata. “Jadi, dengan sendirinya UMKM kerajinan dan UMKM lainnya bisa ikut terangkat,” kata Dyah.

Menurut Dyah, penyebab melemahnya perekonomian Aceh diakibatkan kurangnya sinergitas antarpihak dalam penguatan ekonomi masyarakat, sehingga kemiskinan Aceh sulit diturunkan.

 

SUMBER: PORTALSATU.COM

Kegiatan 2019
About Elly Sufriadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *